Banyak ulama yang telah mendefinisikan tasawwuf, bahkan saking banyaknya Imam As-Sahrurdi berkata :

و أقوال المشايخ في ماهية التصوف تزيد على الألف قول

Perkatan para ulama tentang definisi hakikat tasawuf lebih dari 1000 pendapat.

Salah satu di antaranya ulama yang mendefinisikan tasawwuf adalah Al Imam Abu Muhammad Al-Jariri.

” الدخول في كل خلق سني و الخروج من كل خلق دني”

Tasawwuf adalah masuk pada akhlaq mulia dan keluar dari akhlaq hina.

Imam Al Junaid berkata :

” ان تكون مع الله تعالى بلا علاقة”

Tasawwuf itu adalah engkau harus selalu bersama Allah tanpa ketergantungan pada sesuatu apapun

Makam Imam Abul Hasan As-Syadzili di daerah Humaitsaroh Provinsi laut Merah Mesir

Menurut hemat penulis, tasawwuf merupakan sebuah ilmu yang harus dimiliki oleh setiap insan jika ingin mendekatkan diri kepada penciptanya. Karena tanpa melalui tasawwuf, kedekatannya bisa dibimbangkan bahkan masih diragukan. Karena di dalam ilmu ini terdapat beberapa aturan dan tahapan yang harus ditempuh bagi sang murid untuk mecapai maqam di hadapan penciptanya.

Tasawwuf ada sejak era dakwah Rasulallah SAW kepada sahabatnya. Ketasawufan para sahabat tidak bisa diragukan lagi, sebab beliau berhadapan langsung dengan kekasih penciptanya, dan pengemban wahyu. Kemudian diteruskan oleh para tabi’in hingga dilestarikan oleh para ulama yang membidangi ilmu ini.

Kita telah banyak mengetahui, bagaimana para waliyullah diangkat derajatnya hingga mencapai maqom yang sulit dicapai oleh orang awam. Karena beliau sangat tepat dalam cara pendekatan diri kepada Allah, serta mendapat bimbingan langsung dari syaikh/mursyidnya. Sebelum mencapai tingkatan tersebut, beliau awalnya hanya menjalankan syari’at dari penciptanya, dan menjauhi larangannya sebagaimana kita menjalaninya, karena berkat dari keistiqomahan serta kesungguhan dalam menjalaninya tersebut, akhirnya beliau terpilih menjadi seorang yang mendapatkan maqom tertinggi di sisinya. Dan juga Beliau pasti melewati beberapa tingkatan hingga akhirnya terpilih menjadi seorang Waliyullah. Sesuai dengan firman Allah:

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(Q.S.Al-Ankabut : 69)

Beliau tidak ada yg bercita-cita mencapai maqam wali tersebut, sebab tingkatan wali adalah sebuah pencapaian bukan tujuan.

Makam Syaikh Ibnu Daqiq Al-Id

Kemudian pada era digital dan generasi milenial ini banyak asumsi yang berkembang, bahwa tasawwuf adalah menyatukan diri kepada Allah dan menjauhi dari kehidupan dunia. Karena kesaksian mereka dalam menyikapi tasawwuf adalah tercermin dari orang yang selalu berdiam dan menutup diri dari khalayak umum, serta menjauhi dari hiruk pikuk kemewahan dunia.

Asumsi seperti ini perlu diluruskan kembali, agar tidak menjadi suatu penetapan personal. Sebab para ulama tasawwuf tidak harus seperti yang mereka asumsikan. Banyak para ulama’ tasawuf yang kehidupan mereka dihiasi dengan kemewahan dunia, seperti Sulthonul Auliya’ Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani yang mempunyai 1000 ekor kuda hitam yang kendaraan paling mewah di zamannya, dan juga Syaikh abul Hasan As-Syadzili seorang pendiri thoriqoh Syadziliyah. Banyak kesaksian dari para ulama yang se zaman dengan beliau selalu berpakaian yang bagus sampai membuat orang di sekelilingnya heran.

Al hasil, kehidupan tasawwuf adalah Akhlaq seorang hamba kepada penciptanya, serta bisa menyeimbangkan urusan dunia dan akhiratnya.

Ditulis oleh Alumni PP. Miftahul Ulum Bakid yang sedang menempuh studi di Universitas Al-Azhar Mesir

Leave a Reply