Hadhramout, khususnya kota Tarim, telah dikenal oleh masyarakat Muslim dunia sebagai wilayah yang serat akan tradisi. Hal ini detengarai dengan penghargaan yang diberikan oleh ISESCO (Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization) untuk kota Tarim sebagai Ibu Kota Budaya Islam (Capital of Islamic Culture) sejak tahun 2010 M.   Bahkan ada salah seorang pengajar di Universitas Al-Ahgaff, Yaman mengatakan, bahwa setiap bulan dari tiap tahunnya -mulai awal bulan Muharam, hingga penghabisan bulan Zulhijah-, masyarakat Tarim mempunyai kegiatan-kegiatan tertentu yang sangat beraneka ragam. Di samping itu, penduduk Bumi Wali ini, dengan latar belakangnya yang agamis, Mereka sangat berantusias dalam mengisi kesehariannya dengan nuansa rohani, termasuk kegiatan-kegiatan yang bersifat tradisi tadi. Jadi bisa dikatakan, bahwa segala tradisi yang dikerjakan masyarakat Tarim sepanjang tahun, kesemuanya itu bernilai ibadah. Sungguh sangat menakjubkan bukan!

Ramadan menjadi salah satu momentum teristimewa bagi masyarakat yang ada di Kota Ribuan Wali ini, termasuk Warga Negara Indonesia yang bermukim di sana. Bagaimana tidak, di bulan ini, masyarakat Tarim benar-benar mengamalkan hadits nabi Muhammad, saw. tentang keutamaan bulan Ramadan dan cara untuk mendapatkan hal berharga darinya. Sehingga, kita akan mendapati masji-masjid di kota ini, pada bulan Ramadan, lebih ramai dari pada hari-hari biasanya.

Di samping itu, kita juga akan mendapati dimensi waktu di kota Tarim, saat bulan Ramadan, seakan terbalik. Siang menjadi malam, dan malam menjadi siang. Bagaimana tidak, hampir seluruh toko-toko dan pegawai diliburkan pada siang hari (kecuali sedikt sekali), dan kebanyakan akan dibuka setelah salat maghrib, kemudian ditutup kembali saat berlangsunya salat Tarawih di Masjid sekitar tempat toko-toko itu berada, dan mereka akan membukanya kembali seusai salat Tarawih hingga larut malam menjelang sahur. Hal diatas dimaksudkan agar kegiatan took-toko tersebut tidak mengganggu keberlangsungan ibadah di bulan Ramadan.  Oleh karena itu kita akan membahas, apa saja hal-hal yang dikerjakan oleh orang-orang Tarim pada bulan suci Ramadan ini?.

Pada dasarnya jenis kegiatan yang dilakukan masyarakat kota Tarim pada bulan Ramadan hampir sama dengan kebiasaan masyarakat Muslim di Negeri-negeri lain nya, mulai salat tarawih, tadarus, buka bersama, ceramah agama, dan lain sebagainya. Namun, ada beberapa hal menarik dari kota Tarim, yang membuatnya berbeda dari daerah-daerah lainnya, yaitu dari segi bagaimana mereka menghidupkan nuansa Ramadan dengan kegiatan-kegiatan tersebut sehingga menjadi lebih terasa. Dari sini, muncul lah istilah tarawih seratus rakaat dan lain sebagainya.

1. Tarawih Seratus Rakaat.

Salah satu ciri khas yang hanya dimiliki oleh kota Tarim pada saat bulan Ramadan, dan hal itu tidak akan dijumpai di daerah manapun, bahkan di seluruh dunia, ialah cara masyarakat kota Tarim dalam melaksanakan salat Tarawih. Ketika anda berada di kota Tarim, pasti anda akan mendengar istilah ”Tarawih 100 Rakaat”. Sebetulnya, dari manakah munculnya istilah ini?

Pada dasarnya jumlah rakaat yang dikerjakan oleh masyarakat Tarim ketika melaksanakan salat Tarawih tidaklah berbeda dengan salat Tarawih pada umumnya, yaitu 20 rakaat. Namun, masyarakat Kota Tarim biasa melaksanakan salat tarawih dengan waktu yang beragam sebagaimana jadwal yang telah ditetapkan oleh beberapa masjid setempat, tercatat ada sekitar 48 masjid yang menjadwalkan salat tarawih berjamaah. Jadi, ada sebagian masjid yang melaksanakan salat tarawih seusai salat isya’ secara berlangsungan tepat jam 8 malam, ada pula yang melaksanakan nya pada pukul 9-10 malam, dan seterusnya bergantian hingga jam 2 larut malam. Di samping itu, tidak sedikit masyarakat yang bersemangat untuk mengikuti setiap pelaksanaan pada tiap-tiap masjid. Sehingga, jika dijumlahkan dari sekian pelaksanaan tadi, hitungannya bisa mencapai 100 rakaat. Dan dari sinilah muncul istilah ”Tarawih 100 Rakaat” tadi.

2. Khataman dan Tadarus Al-Qur’an.

Salah satu kegiatan masyarakat Kota Tarim pada malam-malam bulan Ramadan ialah pembacaan khatmil qur’an. Ada dua jenis khataman yang biasa dibaca msyarakat Tarim, yaitu khatm ar-rub’i dan khatm as-sitt. Khataman yang pertama dibaca seusai menyelesaikan pembacaan (di Indonesisa: tadarusan) Al-Quran selama empat hari, dan yang kedua selama enam hari. Kegiatan ini dilakukan secara rutin hingga akhir bulan. Masjid-masjid yang menyelenggarakan Khataman ini diantaranya seperti masjid Al-Jami’ Tarim, masjid Al-Muhdhar, masjid As-Seggaf, masjid Ali Ba ‘Alawi, dan lain nya. Terlebih ketika sudah memasuki malam ke dua puluh satu bulan Ramadan, kita akan mendapati khataman ini lebih ramai dari pada hari-hari sebelumnya, karena banyak berdatangan masyarakat dari beberapa daerah, termasuk dari daerah yang ada di luar Kota Tarim.

3. Khutbah/Ceramah Ramadan.

Di sebagian malam pada bulan Ramadan juga diadakan jadwal khusus seperti khotbah (ceramah kegamaan) seputar keutamaan-keutamaan bulan Ramadan. Kegiatan ini biasanya diselenggarakan pada malam pertama, malam ke sepuluh, malam ke lima belas, dan malam ke dua puluh dari bulan Ramadan. Kita dapat menghadiri ceramah-ceramah itu di beberapa masjid yang ada di Kota Tarim, dan yang paling banyak dihadiri pengunjung biasanya adalah masjid As-Syaikh Umar Al-Muhdhar, khususnya pada malam ke dua puluh, banyak sekali pengunjung yang berdatangan dari berbagai daerah ke masjid ini.

4. Ziarah Pemakaman Basyar

Pemakaman basyar adalah nama untuk tiga tempat pemakaman yang ada di kota Tarim, yaitu: turbah zanbal, turbah furaith, dan turbah akdar. Letak ketiga pemakaman ini berdekatan, dan konon katanya di setiap pemakaman ini dikebumikan sekitar 10.000 wali Allah dan 80 wali Quthb. Setiap hari jum’at pada bulan Ramadan, masyarakat kota Tarim akan beramai-ramai menziarahi ketiga pemakaman ini sekaligus. Ziarah ini dipimpin langsung oleh dua tokoh kenamaan dari Kota Tarim, yaitu Al-Habib Ali Masyhur BSA, dan Al-habib Umar BSA. dimulai sehabis salat ashar hingga berakhir menjelang waktu maghrib.

Kegiatan-kegiatan di atas merupakan rutinitas masyarakat kota Tarim pada bulan suci Ramadan secara turun temurun dari zaman pendahulu/para pembesar kota Tarim dahulu kala. Namun, yang telah disebutkan secara terperinci di atas bukanah jumlah keseluruhan dari rutinitas masyarakat kota Tarim pada bulan Ramadan, melainkan hanya sebagian besarnya saja, yaitu kegiatan yang sering diikuti oleh para Santri/Mahasiswa Indonesia di Kota Ribuan Wali ini. Disamping itu, jika kita teliti lagi, masih banyak tradisi-tradisi lain nya, seperti: jalsah rauhah (mendengarkan petuah-petuah bijak) dari masyayikh Tarim, pembacaan kitab karya ulama’ Tarim (semisal karya Al-Imam Al-Haddad,dll) di sebagian zawiyah atau masjid yang ada di kota Tarim, pelantunan nasyid-nasyid hadhramiy yang menyelingi setiap kegiatan (seperti seusai salat tarawih), takjilan bersama di masjid-masjid kota Tarim, yang pasti nuansananya sangat berbeda dengan apa yang kita kenal, dan lain sebagainya.

Sumber;

  1. ad-dalil al-qowim fi dzikri syai’in min ‘adaati Tarim / As-Sayyid Hamid bin Muhammad bin Abdillah bin Syihabuddin
  2. wawancara senior Mahasiswa Univ. Al-Ahgaff Tarim

Penulis : M. Hamdan Hidayatullah (Alumni PPMU BAKID yang sedang menempuh studi di Universitas Al-Ahqaf Yaman)

Leave a Reply