Idul Fitri identik dengan baju baru. Semua orang mulai dari anak-anak hingga orang dewasa pun pada hari yang Fitri ini bisa dipastikan memakai baju baru yang sudah dipersiapkan sejak Ramadhan.

Memakai baju baru di hari raya Idul Fitri merupakan anjuran Rasulullah saw.

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ، قَالَ: أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوقِ، فَأَخَذَهَا، فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالوُفُودِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ

“Sungguh Abdullah bin Umar, ia berkata : “Umar mengambil sebuah jubah sutra yang dijual dipasar, ia mengambilnya dan membawanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam dan berkata : “Wahai Rasulullah, beliah jubah ini serta berhiaslah dengan jubah ini di hari raya dan penyambutan. Rasulullah berkata kepada Umar : “sesungguhnya jubah ini adalah pakaian orang yang tidak mendapat bagian ”. (HR.Al-Bukhari).

Dari hadits tersebut bisa disimpulkan bahwa berhias di hari ‘ied termasuk kebiasaan yang sudah ada di kalangan para sahabat, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh karena itu, pada Hari raya dianjurkan untuk memperindah diri, memakai baju dan wangi-wangian yang terbaik. Jika tak ada yang baru, bolehlah yang lama namun tetap pilihan yang terbaik. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al Mustadrak ‘alaa Al-Shahihain:

عَنْ زَيْدِ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ أَبِيهِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعِيدَيْنِ أَنْ نَلْبَسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُ، وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدَ مَا نَجِدُ

“Dari Zaid bin Al-Hasan bin Ali,  berkata : Rasulullah saw memerintahkan kami dalam dua hari Raya untuk memakai. Baju dan wangi-wangian terbaik yang kita miliki.”

Jika setiap tahun setiap orang menambah koleksi baju, maka dapat dipastikan bajunya akan terus menumpuk bahkan bisa-bisa lemarinya akan kelebihan muatan. Rasulullah saw memberikan tuntunan bagi umatnya ketika memakai baju baru dan bagaimana seharusnya menyikapi baju yang lama.

عن عُمَر بْن الخَطَّاب رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” مَنْ لَبِسَ ثَوْبًا جَدِيدًا، فَقَالَ :  الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي مَا أُوَارِي بِهِ عَوْرَتِي، وَأَتَجَمَّلُ بِهِ فِي حَيَاتِي، ثُمَّ عَمَدَ إِلَى الثَّوْبِ الَّذِي أَخْلَقَ، فَتَصَدَّقَ بِهِ ؛ كَانَ فِي كَنَفِ اللَّهِ ، وَفِي حِفْظِ اللَّهِ، وَفِي سَتْرِ اللَّهِ حَيًّا وَمَيِّتًا “. (رواه ابن ماجه)

Dari Umar bin Khattab ra, saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang memakai baju baru lalu membaca :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي مَا أُوَارِي بِهِ عَوْرَتِي، وَأَتَجَمَّلُ بِهِ فِي حَيَاتِي

“Segala puji milik Allah yang telah memberikan aku pakaian yang dengannya aku tutupi auratku dan berhias diri dalam hidupku”.

Kemudian menyedekahkan baju yang lama, niscaya akan berada dalam penjagaan dan perlindungan Allah di masa hidup dan matinya (HR. Ibnu Majah).

Ditulis oleh : Ibnu Ad. Karim Al-Jazuri

Leave a Reply