Sebagai salah satu Perguruan Tinggi yang lahir dari Pesantren, STIS Miftahul Ulum Lumajang terus berupaya mematangkan karakter pesantren sebagai ciri khas dalam Kehidupan kampus maupun materi pembelajaran sehari-hari. Untuk itu selama tiga hari dari tanggal 1-3 Februari 2020 diadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan Tema “ Penguatan dan Pengembangan Kelembagaan Berbasis Kampus Pesantren “.

FGD ini dilandasi keprihatinan banyaknya kampus yang berada dilingkungan pesantren, namun kemudian nilai-nilai pesantren justru terkikis dalam berkehidupan dan proses pembelajaran di Perguruan Tingginya. Padahal tanpa dukungan Pesantren, baik dari sisi suplly santri sebagai mahasiswa maupun dari sisi finansial, kampus pesantren tidak akan bisa berdiri.

Untuk itu, STIS Miftahul Ulum Lumajang yang berada lama lingkup Pesantren Salaf  terbesar dan tertua di Lumajang tidak ingin menjadi kampus yang demikian. Maka diadakanlah FGD dengan mengundang beberapa Pakar dari Universitas Brawijaya, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Pada hari Pertama (1/2/20202), materi FGD disampaikan oleh Auditor Internal Universitas Brawijaya Malang Fani Fariedah, MP. Dalam paparannya beliau mengungkapkan pentingnya sebuah Perguruan Tinggi terutama yang berbasis Pesantren melakukan Pemantauan dan Pengendalian Standar Mutu Akademik. Hal ini berguna untuk meningkatkan mutu pendidikan yang diselenggarakan. Selain itu juga perlu antar struktur organisasi memahami tupoksi sehingga manajemen berjalan sebagaimana sistem yang telah disepakati. Hasilnya adalah adanya efektifitas dan efisiensi sistem manajemen.

Dr. Ahmad Abtokhi, Sekretaris LP2M UIN Malang yang menjadi pemantik kedua (2/2/2020) menguraikan banyak hal tentang pentingnya semua unsur yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan di STIS Miftahul Ulum Lumajang memahami Tri Dharma Perguruan Tinggi secara komprehensif. Terutama titik tekan pada Dosen dituntut untuk mengembangkan pola pikir kritis, inovatif, kreatif dan mengembangkan iptek. Hal lain yang beliau sampaikan adalah peningkatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Disamping itu publikasi hasil penelitian dan pengabdian tersebut perlu terus ditingkatkan dengan memperkuat sistem informasi. Alhasil fungsi perguruan tinggi terutama yang berbasis pesantren sebagai agen perubahan benar-benar terlaksana dengan optimal.

Hari ketiga (3/2/2020) dari rangkaian FGD STIS Miftahul Ulum Lumajang di isi oleh Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya yang sekaligus Sekretaris Kopertais 4 Surabaya Prof. Dr. KH. Imam Mawardi. Profesor dan Kyai yg sering tampil di Stasiun Televisi JTV ini, dengan gayanya yang eksentrik menyampaikan pentingnya Perguruan Tinggi Pesantren memiliki keilmuan yg khas dan menjadi Benchmark dari perguruan tinggi tersebut. Semisal memiliki keahlian dibidang Hukum Keluarga berbasis kitab kuning atau Hukum Ekonomi Syariah berbasis kitab kontemporer. Sehingga ini membedakan Perguruan Tinggi Pesantren dengan Perguruan Tinggi lain terutama yang tak berbasis pesantren. Ini merujuk pada ciri pesantren di masa lampau, misalkan mau belajar fiqih ke Pondok Lirboyo Kediri, dst.

Terakhir dalam paparan beliau, perlunya Perguruan Tinggi Pesantren mengembangkan ekosistem digital dalam kehidupan perguruan tinggi, baik dari sisi administrasi maupun proses pembelajaran. Karena Digitalisasi adalah keniscayaan yang tidak bisa dinafi’kan di era modern saat ini. “ujarnya”

Reporter : Hafizh Idri Purbajati

Leave a Reply