Mungkin rangkaian kalimat diatas sangat pas untuk kami jadikan judul pada tulisan ini karena kalimat tersebut kami kutip dari Dawuh beliau KH. M. Husni Zuhri saat hadir pada kegiatan rutin Iksaba Probolinggo Wilayah Timur.

Kegiatan rutin Iksaba Probolinggo Wilayah Timur yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali namun pada kegiatan kali ini (Ahad,19-01-2020) sangat istimewa karena dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih dan mungkin saya diantara alumni yang beruntung bisa hadir diacara tersebut sehingga saya bisa mengaji dan mendengarkan fatwa-fatwa beliau . Pada kesempatan itu beliau banyak menyampaikan tentang Iksaba dan perkembangan zaman pada saat ini,diantara dawuh beliau yang bisa kami kutip:

  1. Mengingatkan kepada semua alumni untuk selalu menjaga dan meningkatkan Ubudiyah,Ukhuwah dan Ilmiyah karena tiga unsur ini adalah tujuan pokok dari dibentuknya Forum Iksaba
  2. Menjaga Aqidah Ala ahlussunnah Wal Jama’ah dengan cara mengikuti jam’iyah Nahdlatul Ulama’ (NU) yang merupakan jam’iyah peninggalan para sesepuh dan para ulama’-ulama’ terdahulu,  

Dalam hal ini beliau menyampaikan bahwa NU itu bukan hanya yasinan,tahlilan maupun sholawatan tapi NU itu juga perlu penguatan pemikiran,ideologi keagamaan dan kebangsaan  terhadap warga NU sehingga tidak mudah terbawa arus kepada aliran yang lain.sebagai alumni merupakan penerus dari perjuangan mereka maka jam’iyah ini perlu dipertahankan demi menguatkan aqidah.

  1. Menjadi alumni yang selalu memberikan jasa (berjuang) bukan cuman bisa mengambil jasa dari orang lain. Pada penyampaian ini beliau mengutip dari sejarah Raja Harun Arrasyid yang pada waktu itu Raja Harun Arrasyid sedang berburu di hutan dengan menaiki kuda dan bertemu dengan seseorang yang sangat tua serta bongkok dan jalannya  sudah tertatih-tatih yang sedang menanam pohon kelapa,lalu Raja Harun Arrasyid bertanya kepada  orang tua tersebut “ Hai,pak tua,apa yang engkau tanam?pak tua tersebut lalu menjawab ,saya lagi menanam pohon kelapa, kemudian Raja Harun Arrasyid bertanya lagi, engkau menanam pohon kelapa sedangkan engkau sudah tua dan sebentar lagi akan mati? Pak tua tersebut lalu menjawab, saya memang tua dan menanam pohon kelapa ini bukan untuk saya tapi untuk anak-anak cucu saya” dengan sejarah ini beliau juga mengingatkan kepada kita melalui pribahasa “jangan hanya bisa memetik buahnya, tapi juga harus bisa menanam dan merawatnya”.
  2. Menjadi alumni yang selalu menjauhi lima penyakit hati (takabbur,ujub,riya,hasud dan bakhil) dengan menjauhi penyakit ini maka kita akan menjadi orang yang selamat di dunia maupun diakhirat

Dalam kesempatan ini juga beliau mengutip salah satu ayat yang terdapat dalam surah Yasin ayat (إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآَثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ) beliau menjelaskan bahwa ayat ini mengandung arti yang sangat luas diantara kandungan ayat ini, bahwa keberadaan manusia melewati lima alam:

  1. Alam rahim (Kandungan)
  2. Alam dunia
  3. Alam barzakh
  4. Alam mahsyar
  5. Alam akhirat (surga dan neraka)  

Menurut beliau dua alam diantara lima alam tersebut menjadi penentu  manusia bisa selamat dan masuk surga serta kekal didalamnya yaitu apabila manusia bisa melewati alam dunia dan alam barzah dengan selamat, artinya, manusia melakukan kebaikan-kebaikan selama hidupnya dan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain sehingga ketika meninggal dan dialam barzah akan diberi kemudahan dalam menghadapi malaikat Allah dan ini wajib dipercayai apabila tidak percaya maka akan menjadi orang yang murtad (dawuh beliau) , lolos dari dua alam ini maka akan menjadi penduduk surga selamanya.

Kehidupan manusia sekarang ini memasuki alam yang kedua, berarti perjalanan kita masih panjang,masih  banyak yang harus kita lakukan tentunya yang bermanfaat kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Selain dari pesan-pesan tersebut beliau juga menyampaikan dawuh Guru beliau (Syekh Muhammad Bin Isma’il) ketika beliau menjemputnya di Bandara Surabaya, lalu beliau ikut mendampingi  Gurunya menuju ke Malang, sesampainya di Malang Guru beliau menanyakan lama perjalanan dari Surabaya-Malang dan beliau menjawab sekitar kurang lebih 1 jam karena suda ada jalan tol yang sebelumnya  ditempuh kurang lebih 2-3 jam, kemudian Syekh Muhammad Bin Isma’il dawuh, dengan perkembangan zaman saat ini itu salah satu bukti tanda qiyamat karena tanda qiyamat menurut beliau ada tiga yang diantaranya:

  1. Dekatnya waktu dengan tempat )  تقرب الزمان بالمكان ) ini sudah terjadi saat ini seperti adanya jalan tol, dengan jalan tol membuat waktu perjalanan  yang lama menjadi terpangkas sehingga sampai pada tempat yang dituju lebih cepat.
  2. Amblasnya bumi (  انهيار الارض ) ini juga sudah terjadi  di Palu dan Surabaya.
  3. Banyaknya fitnah (كثرة الفتن)  seperti Hp yang sekarang sering disalah gunakan untuk menyebarkan informasi-informasi Hoax. Fitnah yang terjadi saat ini bukan hanya dari mulut lagi tapi sudah bergeser kepada tangan yang sering digunakan untuk mengetik  di HP sehingga jika tidak hati-hati maka akan mengetik hal-hal yang bisa menimbulkan fitnah/hoax.

Kesimpulan dari Dawuh beliau menurut kami bahwa beliau mengajak kepada segenap alumni untuk selalu tetap istiqomah dalam ibadah dan menjaga ukhuwah serta tidak berhenti belajar demi menjaga aqidah ala ahlussunnah wal jama’ah Annahdliyah sehingga hati kita selalu tersambung dengan beliau yang sekarang menjabat sebagai Rois Syuriah NU Kabupaten Lumajang, semoga beliau diberi kesehatan dan kita sebagai alumni senantiasa mendapat barokah beliau dan para masyayikh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul  Lumajang.Amiin 

Penulis:

Hafiluddin, S.Pd.I. M.A. Alumni PPMU Bakid asal Probolinggo

Leave a Reply