Oleh: Sahrul Hidayatullah )*

Pada beberapa tahun yang lalu, sektir tahun 2016 KH. Maimun Zubair diundang untuk mengisi ceramah dalam sebuah acara pengajian. Saya menyimak ceramah beliau tersebut melalui tayangan video yang dipublikasikan oleh chanel youtobe “Pesantren Online” pada tanggal 22 September 2017. Dalam kesempatan itu dengan durasi sekitar ± 1,5 jam beliau menjelaskan tentang Islam Nusantara. Dari awal beliau secara sistematis memaparkan tentang peradaban islam sejak fase pertama hingga lahirnya Islam Nusantara. Hampir sampai pada penghujung ceramahnya, beliau menegaskan kembali bagaimana pentingnya mengimplementasikan ideologi pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai kebhinekaan. Salah satu yang beliau contohkan adalah bunyi Sila Pertama yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dalam ceramahnya tersebut beliau mengatakan:

“….Pancasila yang pertama Ketuhanan, bukan Tuhan, tapi Ketuhahan. Yang berketuhanan itu manusianya, manusia yang berketuhahan. Ketuhanan itu bisa mempersatukan semua agama karena seginya lima…”

Gagasan beliau tentang filososfi Sila Pertama tersebut sangat menarik untuk kita pahami dari aspek metodologisnya. Sejauh yang saya pahami apa yang dimaksud oleh beliau tentang “ketuhanan” ialah sebuah keyakinan yang dimiliki oleh beberapa kelompok manusia yang masing-masing meyakini atas Tuhan yang mereka sembah dan menjalankan tradisi peribadatan sesuai dengan agamanya masing-masing tanpa membeda-bedakan antara satu sama lain dalam konteks kewarganegaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjalin kerukunan antar umat beragama. Mereka sama-sama meyakini adanya Tuhan meskipun konsep ketuhanan mereka berbeda satu sama lain. Mereka juga mempunyai hak menerima perlakuan yang sama sebagai warga negara Indonesia.

Mbah Maimoen memunculkan gagasan “ketuhanan bisa mempersatukan semua agama”, secara substansi gagasan ini ada hubungannya dengan apa yang dikatakan oleh Mukti Ali bahwa perbedaan pemikiran, agama, ras, suku, bahasa dan budaya harus dijadikan sebagai pedoman kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Di tengah perbedaan tersebut, semua kalangan harus menghargai dan menerima pluralitas sebagai “kenyataan sosial”. Kenyataan sosial di sini saya artikan dengan sunnatullah yang tentu sangat beragam jenis kultur dan budaya. Menyadari atas kenyataan sosial (sunnatullah) sama halnya menyadari keberadaan Tuhan, tentunya Tuhan menurut konsep mereka masing-masing.

Selama ini yang kita pahami dasar bunyi Sila Pertama masih terbilang normatif, mengapa demikian? Karena kita memahami sila pertama tersebut hanya berhenti pada firma Allah dalam Surat Al-Ihklas ayat 1 yang berbunyi قل هو الله احد yang artinya “katakanlah (Muhammad) Dia adalah Allah yang Maha Esa”. Bahkan oleh sebagian kelompok umat islam fundamental ayat tersebut sering dijadikan senjata untuk menjustifikasi dan mengkalim bahwa agama selain Islam bertentangan dengan bunyi sila pertama, karena sejauh yang mereka pahami konsep ketuhanan selain agama islam tidak murni mengesakan Allah. Akan tetapi kalau kita pahami lebih jauh lagi apa yang disampaikan oleh Mbah Maimoen di atas secara substansi ada kaitannya dengan beberapa bunyi ayat al-Quran yang mengandung apa yang disebut oleh Fazlu Rahman dengan “ideal moral” toleransi antar umat beragama, salah satunya dalam Surat As-Syura ayat 15 yang berbunyi

فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَقُلْ آَمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya-lah kembali (kita)”

Pada ayat tersebut Syekh Aidh Al-Qarni dalam tafsirnya “Al-Muyassar” menjelaskan bahwa demi kokohnya hubungan antar agama yang diwariskan oleh Nabi-nabi sebelumnya, Nabi Muhammad SAW. diperintah oleh Allah untuk konsisten pada apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya dan agar tidak terpengaruh pada hawa nafsu orang-orang yang ragu pada kebenaran sehingga mereka berpaling dari agama mereka. Beliau pun diperintah agar membenarkan kitab-kitab mereka (Zabur, Taurat dan Injil) yang diturunkan kepada Nabi-nabi sebelumnya dan menghukumi mereka dengan adil serta mengakui bahwa tuhan Nabi Muhammad SAW. dan tuhan mereka (orang-orang kafir) adalah Allah SWT. Oleh sebab itu Nabi Muhammad SAW. beserta kaumnya (umat islam) berhak menerima pahala atas perbuatan baik yang beliau dan umatnya lakukan, begitu juga dengan mereka (non-muslim) berhak menerima konsekuensi atas perbuatan buruk yang mereka lakukan, tanpa harus ada pertikaian, perdebatan dan permusuhan di antara mereka setelah kebenarannya sudah jelas. Pada akhirnya di hari kiamat mereka semuanya akan dikumpukan dan dihukumi secara adil dan semuanya akan kembali kepada Allah dan Allah akan membalas sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan.

Dari sini dapat dipahami bahwa al-Quran memberikan gambaran praktis bagaimana islam mengajarkan untuk konsisten dalam menjaga kerukunan antar umat beragama tanpa ada intoleransi dan diskriminasi terhadap pemeluk agama lain, karena sebenarnya di antara mereka sudah menemukan kebenaran dan meyakini kebenaran itu menurut perspektif mereka masing-masing. Karna pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah dan Allah lah yang akan membalas segala perbuatan baik maupun perbuatan buruk mereka kelak di hadapan-Nya. Sebagaimana pula yang dijelaskan dalam ayat yang lain bahwa tidak ada paksaan dalam agama (Al-Baqarah: 256) dan di beberapa ayat yang lain Allah juga menyinggung tentang toleransi antar umat beragama.

Di samping itu, gagasan Mbah Maimoen di atas mengandung satu prinsip dengan apa yang disebut dengan Maqashid asy-Syari’ah (tujuan-tujuan syari’at) yang wajib dipelihara khususnya oleh umat Islam, dalam ilmu ushul fiqh disebut Maqashid al-Khamsah atau Dlaruriyat al-Khamsah (lima tujuan pokok) antara lain; Hifd ad-Diin (menjaga agama), Hifdh an-Nafs (menjaga jiwa), Hifdh al-‘Aql (menjaga akal), Hifdh an-Nasl (menjaga keturunan), Hifdh al-Maal (menjaga harta) dan oleh sebagian ulama seperti Jasser Auda ditambah satu lagi sehingga menjadi enam yaitu Hifdh al-‘Irdl (menjaga kehormatan). Yang pertama adalah memelihara agama (hifdh ad-diin), oleh Auda diartikan “Menjaga, melindungi dan menghormati kebebasan beragama atau berkepercayaan”. Jadi jelas apa yang dikatakan oleh Mbah Maimoen, di samping merupakan prinsip daripada sila pertama juga merupakan asas tujuan syari’at Islam yaitu mememlihara agama dan menghormati agama lain dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti yang dimaksud oleh Auda dengan Hifdh ad-Diin.

Bunyi sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” ditandai dengan simbol bintang warna kuning. Dalam buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang ditulis oleh Dr. H. Muhammad Rakhmat, SH., MH. dijelaskan bahwa lambang bintang mengandung maksud agar warga negara Indonesia terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan atas dasar agama dan kepercayaan masing-masing, berkarakter religius dengan membangun nilai-nilai keimanan dan ketakwaan untuk menciptakan warga bangsa Indonesia yang bermartabat dan toleransi serta saling menghormati antar umat beragama.

Simbol inilah yang oleh Mbah Maimoen dikatakan sebagai simbol yang mempersatukan semua agama sebagaimana bentuknya yang memiliki lima segi. Lalu beliau lebih jauh melanjutkan penjelasan satu persatu makna filosofis dari masing-masing segi tersebut yang merupakan tujuan pokok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menariknya, beliau dengan lugas menjelaskan satu-persatu dari lima segi tersebut sesuai dengan hirarki Maqashid al-Khamsah di atas.Adapun kandungan makna filosofisnya sebagai berikut:

Segi pertama, Mbah Maimoen memaknai dengan “menjaga jiwa”, baik jiwa diri sendiri, keluarga maupun orang lain meskipun beda agama. Di bagian pertama ini beliau dengan logis dan bijak mengimplementasikan lambang sila pertama pada konteks kehidupan berbangsa dan bernegara dengan mengutamakan kerukunan antar umat beragama dengan saling menghormati dan menghindari pertumpahan darah yang menyebabkan hilangnya nyawa atau jiwa seseorang, hal ini senada dengan bunyi maqashid yang kedua yaitu hifdh an-nafs (menjaga jiwa).

Segi kedua, Mbah Maimoen memaknai dengan “menjaga akal”, atau dalam ushul fiqh disebut “Hifdh al-’Aql”. Akal merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah kepada manusia agar dapat berfikir, dalam bidang sosial akal digunakan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, dalam bidang akademik akal digunakan untuk melakukan kajian dan riset ilmiah, baik di bidang ilmu agama, ilmu pengetahuan maupun sains dan teknologi. Sebagaimana menurut Auda Hifdh al-‘Aql “ adalah Melipatgandakan pola pikir dan research ilmiah; mengutamakan perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan; menekan pola pikir yang mendahulukan kriminalitas kerumunan gerombolan; menghindari upaya-upaya meremehkan kerja otak”

Segi ketiga, Mbah Maimoen memaknai dengan “Menjaga Keturunan”, dalam ushul fiqh disebut “hifdh an-nasl”. Keturunan yang dimaksud menurut beliau ialah anak yang dihasilkan dari pernikahan yang sah menurut agamanya masing-masing. Menurut Jasser Auda konsep hifdh an-nasl bukan hanya sebatas menjaga anak karena berstatus sebagai keturunan akan tetapi seorang pemimpin rumah tangga (suami-isteri) mempunyai kewajiban melindungi, menjaga serta memiliki kepedulian ekstra terhadap institusi keluarga, baik dalam segi kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan hidup di masa depan.

Segi keempat, Mbah Maimoen memaknai dengan “menjaga hak milik”, dalam ilmu ushul fiqh disebut “hifdh al-maal”. Prinsip menjaga harta tidak hanya terbatas pada harta milik pribadi seseorang, akan tetapi sebagaimana yang dikatakan Auda yaitu dengan mengutamakan kepedulian sosial; menaruh perhatian pada pembangunan dan pengembangan ekonomi; mendorong kesejahteraan manusia; menghilangkan jurang antara miskin dan kaya.

Segi kelima, Mbah Maimoen memaknai dengan “menjunjung tinggi martabat kemanusiaan”. Di samping menjaga kehormatan pribadi seseorang, juga harus menjunjung tinggi martabat kemanusiaan dan melindungi hak asasi manusia tanpa memandang agama, etnis maupun budaya sebagaimana yang disebut oleh Jasser Auda dalam ushul fiqh dengan “hifdh al-‘irdl” (menjaga kehormatan).

Kalau kita lihat dari gagagsan Mbah Maimoen tentang filosofi lambang sila pertama sebagaimana di atas, mempunyai relasi yang sangat erat dengan teori maqashid versi Jasser Auda, seorang intelektual muslim kontemporer kelahiran Kairo, Mesir tahun 1966 itu. Relevansi bunyi sila pertama dengan maqashid (tujuan) Hifdh ad-din sangat jelas sekali terlihat dari gagasan Mbah Maimoen, dimana setiap warga negara harus menjaga kerukunan antar umat beragama dengan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Begitu juga dengan lima Maqashid yang lainnya semuanya memiliki relevasi masing-masing sesuai dengan apa yang telah dipaparkan oleh Mbah Maimoen.

Sungguh ini bukan merupakan suatu kebetulan, melainkan ini adalah indikasi atas kecerdasan dan keluasan ilmu beliau (Mbah Maimoen) dalam memadukan antara teori hukum islam kontemporer dengan filosofi lambang negara melalui analisis yang komprehensif. Sehingga dari sini kita dapat memahami bahwa pancasila atau  NKRI sama sekali tidak bertentangan dengan syari’at, justru dalam tubuh pancasila mengandung makna filosofis yang sudah sesuai dengan syari’at. Oleh karena itu tidak dibutuhkan lagi adanya NKRI bersyaria’h, apalagi harus mengganti ideologi pancasila dengan yang lain.

Akhir kalam, semoga dari gagasan-gagasan beliau ini dapat melahirkan gagasan-gagasan baru dari para generasinya sesuai dengan perkembangan zaman demi kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini.

Wa Allahu A’lam

 *) Alumni PP. Miftahul Ulum Banyuputih Kidul yang sedang menempuh Studi Magister di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sumber :

  1. Chanel Youtube “Pesantren Online”
  2. Tafsir Al-Muyassar
  3. Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan
  4. Membumikan Hukum Islam melalui Maqashid Asy-Syari’ah
  5. Artikel “Reformasi Pemahaman Teori Maqasid Syariah Analisis (Pendekatan Sistem Jasser Auda)”
  6. Artikel “Pemikiran Maqashid Jasser Auda”
  7. Artikel, Pemikiran A. Mukti Ali Dan Kontribusinya Terhadap Kerukunan Antar Umat Beragama

Leave a Reply